top of page

Cyberbullying Mengganggu Psikologi Manusia

Rucita Maharani - Millennialsdo

Selasa,07 April 2020 1:42 WIB

Media sosial atau Media Online biasa digunakan untuk berpartisipasi, berbagi, berpendapat, mengekspresikan diri, dan mencurahkan perasaannya. Sekarang mari kita membahas lebih spesifik mengenai salah satu platform yang cukup digemari oleh masyarakat Indonesia, yaitu Instagram. Ya, negara kita adalah Negara ke-4 terbesar yang rata-rata penduduknya menggunakan Instagram sebagai Media Sosial. Menurut data napoleoncat.com, sebuah perusahaan analisis yang bertempat di Warsawa, Polandia, tercatat per November 2019 sebanyak 61.610.000 juta pengguna Instagram di Indonesia. Mayoritas pengguna media sosial tersebut adalah wanita, yakni 50,8 persen. Sedangkan, pengguna laki-laki sebanyak 49,2 persen. Tak hanya Jenis Kelamin, ternyata NappoleonCat juga menganalisis dari segi umur. Pengguna biasanya mulai dari rentang 13-17 tahun, 18-24 tahun, 25-34 tahun, 35-44 tahun, 45-54 tahun, 55-64 tahun sampai usia 65 tahun lebih. Tentu saja data-data tersebut tidak begitu mengejutkan bagi saya, karena memang Instagram memiliki berbagai fitur yg menarik sehingga banyak orang yang tertarik untuk menggunakannya. Salah satunya adalah kita dapat membuat akun kita menjadi private, sehingga hanya followers kita saja yang dapat melihat postingan kita. Dengan demikian, semakin banyak pengguna yang dapat menunjukkan emosinya, mulai dari senang, sedih, hingga kesal tanpa rasa khawatir orang yang tidak dikenal juga melihat postingan tersebut. Bagi mereka, melakukan hal tersebut adalah bukti pengekspresian diri di Media Sosial yang membuat perasaannya lebih lega. Namun tidak semua berfikir atau beranggapan seperti itu, ada yang beranggapan bahwa seseorang yang mengekspresikan dirinya di Media Sosial itu berlebihan, ingin pamer, dan terkesan mencari perhatian. Memang tidak ada salahnya karena setiap manusia pasti memiliki pandangan yang berbeda, apalagi dalam menggunakan Media Sosial. Oleh karena itu, tak jarang mereka yang punya pandangan berbeda itu seringkali mengomentari atau bahkan menghakimi orang yang berani mengekspresikan dirinya di Media Sosial, terutama Instagram. Seperti yang tadi disebutkan, memang tidak ada salahnya jika ada yang mengomentari postingan orang lain yang memiliki pandangan berbeda darinya. Tentunya, komentar tersebut harus menggunakan kata kata yang lebih sopan agar tidak menyinggung perasaan siapa pun. Namun, apa jadinya jika kata kata yang digunakan kurang baik? Mungkin saja tindakan tersebut dapat menjadi salah satu bentuk Cyberbullying yang dapat menyentuh sisi psikologis manusia. Cyberbullying memiliki dampak yang negatif dan cukup signifikan bagi masyarakat di era modern seperti ini. Berdasarkan survei IPSOS di 24 Negara termasuk Indonesia, didapati bahwa, satu dari sepuluh atau sekitar 12% orang tua melaporkan bahwa anak mereka mengalami bullying. Dalam dunia Cyber gangguan ini meliputi bentuk agresi dalam hubungan dan segala bentuk-bentuk ancaman elektronik, dan ini terjadi di mana saja dan kapan saja (Parsons,2005). Hasil penelitian Yahoo dan Taylor Nelson Sofred (TNS) Indonesia menunjukkan bahwa, pengakses internet terbesar di Indonesia adalah mereka yang berusia remaja, antara 15-19 tahun dengan prosentase sebanyak 64 persen. Artinya, secara psikologis, remaja yang berkisar umur 15-19 tahun sedang mengalami proses perkembangan dan secara mental belum matang dalam menghadapi berbagai persoalan. Hal ini seringkali menyebabkan terjadinya miscommunication antara pengguna jejaring sosial, bahkan juga dapat menyebabkan Cyberbullying.

Cyberbullying sendiri mempunyai berbagai bentuk, seperti Body Shamming, Merendahkan Ras, Merendahkan Hobi, Orientasi Seksual, dan Seksisme. Memang tidak semua orang yang mempunyai Instagram mendapatkan Cyberbullying, tapi tidak menutup kemungkinan jika kalian juga akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami Grace. Saat itu Grace pernah mendapatkan Cyberbullying berbentuk Body Shamming. Kejadiannya saat dia berada di Sekolah Menengah Atas (SMA). Ya, seperti kebanyakan wanita, saat dia berada di media sosial terutama Instagram terkadang mereka akan melakukan apapun agar followersnya menyukai foto yang ia unggah dan mendapat pujian. Saat itu Grace mengedit fotonya sehingga dia terlihat sangat berbeda dengan aslinya. Tanpa Grace sadari, usahanya itu berhasil sehingga ia mendapat banyak pujian dari followers nya. Sayangnya, Grace yang sudah terobsesi dengan pujian-pujian itu malah mendapat hujatan dan cemoohan dari penggunaan Instagram lainnya. “iya, waktu itu temen aku sempet memposting video gitu diinstagram aku, dan ada akunya, ya kan semua foto di instagram aku itu editan, jadi pas orang orang di instagram tau gitu malah mereka balik hujat. Jujur si aku ga tau kenapa dia bisa ambil handphoneku dan memposting itu di Instagramku.” ujar Grace. Gadis itu sangat terpukul dengan hujatan yang ia terima. Lebih parahnya lagi, hujatan tersebut berasal dari teman-temannya sendiri. “ya memang si 85% itu temen temen sendiri, dan kata temenku yang ngeposting itu hanya bercanda, tapi aku ngerasa bercandanya ya keterlaluan si, dan aku menyesal udh mengedit foto berlebihan hingga sangat berbeda dengan asliku” ujarnya lagi. Setelah kejadian itu, Grace merasa sangat tidak percaya diri. Bahkan, ia menghapus semua fotonya di Instagram. Sejak saat itu, dia tidak pernah mengupload apapun di Instagram. Untungnya, Grace memiliki seorang kakak yang selalu menguatkannya, sehingga rasa tidak percaya dirinya itu semakin berkurang. Kisahnya tidak berhenti sampai di situ. Saat Grace lulus SMA, dia kembali membuat Instagram tanpa mengikuti teman teman yang ada di sekolahnya dulu. Kini, Grace kembali memperoleh kepercayaan dirinya. Ia memberanikan diri untuk memposting fotonya tanpa diedit terlebih dahulu. Ternyata, apresiasi dari followersnya sangat baik, bahkan lebih baik dari pujian yang dulu ia terima. Dari kejadian itu Grace mengambil kesimpulan bahwa kita harus melawan rasa ketidakpercayaan diri, dan mulai belajar mensyukuri apa yang Tuhan beri. Tidak hanya perempuan, laki laki pun bisa mendapatkan Cyberbullying. Hal ini terjadi pada teman saya yang bernama Christ. Lelaki berdarah tionghoa ini juga pernah mengalami Cyberbullying dalam bentuk Merendahkan Ras. Hal itu terjadi saat dia masih berasa di bangku SMP. Suatu hari, Christ mendapat pesan di Instagram yang berisi bahwa tidak akan ada yang mau berteman dengannya. “aku kaget si tiba tiba ada yang ngirim kayak gitu, apalagi belakangnya tertulis 'dasar orang cina nyusahin' sedih sih apalagi saat itu umurku masih cukup muda buat dapetin kata kata kasar itu menurutku” ucap Christ. Untungnya, Christ tidak menanggapi pesan itu. Ia langsung menghapus pesan tersebut. Ia menganggap bahwa ejekan-ejekan yang ia dapati tidak perlu ditanggapi karena hanya membuang-buang waktu saja. Berkat pemikirannya itu, Christ tidak pernah merasa terpuruk. Bahkan, kini Christ telah berasa di lingkungan yang open minded dan bisa nerimanya dengan baik.

Terbukti ya, bahwa Cyberbullying itu bisa mengganggu psikologis manusia, dan tak jarang juga loh yang mengakhiri hidupnya karena Cyberbullying. Kita saja sebagai pengguna Media Sosial yang biasa bukan sorotan publik jika menerima bully bisa sangat strees dan ngedown, apalagi mereka yang sudah dari awal menjadi sorotan publik, yuk jadi pengguna media sosial yang baik, jika ingin berkomentar pakailah kata kata yang sopan dan membangun. Kalau kita sangkutpautkan dengan pepatah “Apa yang kamu tabur, itu yang akan kamu tuai”, jadi jangan menabur kata kata yang tidak baik, mungkin suatu saat nanti yang kamu tuai akan kata kata yang tidak baik pula. Gunakanlah Media Sosial dengan bijak.

Comments


Post: Blog2_Post

Subscribe Form

Thanks for submitting!

  • Instagram
  • Twitter

©2020 by Millennialsdo. Proudly created with Wix.com

bottom of page