top of page

Dampak body shaming pada milenial di media sosial

Nama : Mercy Sambolangi

Nim : 2018070069

Selasa, 07 April 2020 18:55


Media sosial adalah sebuah media untuk bersosialisasi antara satu sama lain dan dilakukan secara online yang memungkinkan untuk saling berinteraksi tanpa dibatasi ruang dan waktu. Di jaman milenial sekarang ini, siapa sih yang gak kenal dan gak pake “media sosial”. Mulai dari anak kecil, remaja, dewasa, bahkan mereka yang sudah lanjut usia pun tau dan menggunakan media sosial. Ada pun yang menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan orang-orang yang jauh dari mereka, menemukan teman lama mereka, berkomunikasi dengan orang asing lalu berteman baik, mencari dan mendapatkan pekerjaan dari media sosial, bahkan ada juga yang menjadikan media sosial itu sebagai tempat mereka mencari rejeki. Tetapi tak jarang juga ada yang menyalah gunakan media sosial tersebut. Ada yang menjadikan media sosial menjadi penyebaran berita hoax dan membuat panik para pengguna media sosial, ada juga yang menjadikan media sosial sebagai tempat untuk pornografi, padahal tidak semua pengguna media sosial itu orang dewasa, banyak dari pengguna media sosial bahkan masih di bawah umur. Dan yang sedang ramai-ramainya saat ini adalah “body shaming melalui media sosial”. Mungkin beberapa pengguna media sosial terutama yang sudah lanjut usia gak ngerti apa sih body shaming itu. Nah body shaming adalah jenis bullyan yang mengomentari fisik atau tubuh diri sendiri ataupun orang lain dengan cara negatif. Entah itu mengejek tubuh gendut, kurus, badan pendek, tinggi, kulit putih, hitam, rambut keriting, rambut pendek, dll. Kasus seperti ini lebih banyak di lakukan dan dialami oleh anak muda. Mungkin bagi sebagian orang mengomentari bentuk tubuh seseorang itu adalah hal yang biasa. Misalnya saja, “kok kamu gendutan?diet dong!”, “udah lama ga ketemu kok jadi kurus?kaya tengkorak aja!, “ih kamu punya double chin! makan terus jadi kayak sapi”. Padahal tanpa mereka sadari mereka dapat menyakiti hati seseorang dan bisa berpengaruh pada kehidupan korban dan membuat mereka merasa buruk bahkan jijik dengan tubuh sendiri, sepanjang hidupnya.


Wanita, umumnya lebih rentan jadi korban body shaming. Studi Fit Rated terhadap 1.000 pria dan wanita mengungkapkan bahwa 92,7 persen wanita pernah diolok-olok karena penampilannya. Sementara pria 86,5 persen. Ironisnya, perlakuan body shaming kerap kali datang dari sesama wanita. Lebih menyedihkannya lagi, body shaming justru lebih sering dilakukan oleh orang-orang terdekat. Entah itu keluarga, kerabat, rekan sekantor ataupun teman. Dampak buruk yang bisa terjadi pada korban akibat body shaming yaitu:


- membuat orang menjadi insecure dan tidak percaya diri

  • korban body shamming akan menutup diri dan lebih senang menyendiri

  • membuat orang lain tidak berkembang

  • melakukan hal ekstrem untuk memperbaiki kondisi fisiknya

  • melakukan self-harm hingga bunuh diri


Body Shaming pun pernah terjadi terhadap siswa SMA, namanya “Jazzy” sekarang dia berada di bangku kelas 3 SMA, dari SMP dia selalu mendapatkan perlakuan body shaming dari temen-temen sekolahnya. Mulai dari SMP dia sudah tidak percaya diri lagi akan dirinya. Bahkan di SMA pun dia mendapatkan body shaming yang lebih parah dibanding sebelumnya. Jazzy pernah memposting sebuah foto di Instagram, di foto itu dia menggunakan baju berenang, yang namanya baju berenang udah pasti seksi dong. Nah, bebrapa jam setelah jazzy posting foto itu, tiba-tiba ada sebuah komen “itu lengan atau paha?hahaha”. Dan lebih parahnya lagi yang komen itu ternyata guru SMA nya sendiri. Bisa banyangin ga seorang guru yang punya pendidikan tinggi, yang harusnya bisa mendidik siswanya dengan baik dan benar malah kaya gitu ke siswanya sendiri. Jazzy pun otomatis langsung ngehapus fotonya yang baru di upload itu. Alhasil di sekolah dia mempunya teman yang sedikit dan tidak mau berbaur dengan teman-temannya yang lain. Dampak itu pun terbawa sampai di keluarga. Waktu itu kita sekeluarga mau pergi ke pantai anyer dan karena itu pantai kita anak-anak muda pake baju pantai dan ya…. udah pasti baju seksi. Kita nyuruh jazzy untuk pake baju seksi juga biar kalo foto-foto bagus, keliatan serasi semua. Tapi dia ga mau, dia mersa dirinya gemuk dan ga akan pantes untuk make baju seksi seperti yang lain. Jazzy juga akhirnya menjadi seseorang yang sangat insecure akan dirinya sendiri. Dia selalu beranggapan dirinya ga pantes make make-up karena kalo make-up ga akan merubah apa-apa dari mukanya dia akan tetap terlihat jelek.

Karena semakin banyaknya kasus body shaming di media sosial, akhirnya pemerintah membuat UU ITE Pasal 45 ayat 1 dan Pasal 27 ayat 3 tentang “BODY SHAMING”. Body shaming di kategorikan sebagai dua tindakan. Tindakan pertama, tindakan berupa hinaan, ejekan terhadap bentuk, wajah, warna kulit, postur seseorang menggunakan sosial media. Dapat diancam hukuman pidana 6 tahun. Tindakan kedua, apabila melakukan body shaming tersebut secara verbal, langsung ditunjukkan kepada seseorang, dikenakan Pasal 310 KUHP dengan ancaman hukuman 9 bulan. Kemudian (body shaming yang langsung ditujukan kepada korban) dilakukan secara tertulis dalam bentuk narasi, melalui transmisi di media sosial, dikenai Pasal 311 KUHP, hukuman 4 tahun.

Mungkin bagi sebagian orang itu hanya bagian dari lelucon mereka doang. Tapi tolonglah bagi kailan yang masih berpikir bentuk tubuh bisa di jadikan sebuah lawakan, tolong mikir dampak yang akan terjadi pada orang tersebut, pikirin hati orang tersebut, mungkin di depan kalian dia masih bisa ketawa tapi kalian ga tau apa yang dia rasain dan apa yang akan dia lakukan di belakang kalian. Berbijaklah dalam bermedia sosial.



Comments


Post: Blog2_Post

Subscribe Form

Thanks for submitting!

  • Instagram
  • Twitter

©2020 by Millennialsdo. Proudly created with Wix.com

bottom of page