top of page

HAL ADIKTIF DARI SOSIAL MEDIA

Updated: Apr 13, 2020

Aswin Pramudya Rachman - Millenialsdo

Selasa, 07 April 2020 16:07 WIB

Ilustrasi : candu sosial media, sumber : https://id.pinterest.com/pin/381539399678472244/



Di era globalisasi kini angka penggunaan gadget dan segala aplikasi di dalamnya semakin meningkat, melihat kemajuan teknologi yang pesat ini tidak memungkinkan jika hanya orang yang berusia diatas 17 tahun yang dapat mengaksesnya, karena memang tidak ada batasan umur yang ketat didalam penggunaan internet dan sosial media. Sudah menjadi hal yang lazim di zaman seperti ini anak-anak dibawah umur dapat mengakses internet, dari yang paling mudah saja seperti portal video terbesar di dunia yaitu Youtube hingga situs jejaring sosial yang sempat membeludak penggunaannya pada periode 2010-2013 yaitu Facebook. Dilansir dari Kompas tekno, pada bulan Juli tahun 2019 kemarin angka terbesar penggunaan sosial media di internet berapa pada usia kisaran 13 sampai 17 tahun. Dan penggunaan terbesar terdapat pada situs Facebook yang angka penggunaannya menyentuh 113,3 juta orang. Sedangkan pada aplikasi Snapchat, Instagram dan Twitter masing masing angka penggunannya berjumlah ; 66,9 juta pada Snapchat, 52,9 juta pada Instagram, dan 20,2 juta pada Twitter. Tentu banyak yang dikhawatirkan pada penggunaan internet di bawah umur karena memang setiap pribadi yang menggunakan internet memiliki kebebasan untuk mengakses apapun, maka dari itu penggunaan internet bagi anak dibawah umur harus sangatlah dibatasi.

Dari banyak hal positif, ada beberapa yang dapat kita ambil seperti mempererat silaturahim, menambah wawasan dan pengetahuan, tersedianya informasi yang akurat, menyediakan ruang berfikir positif, dan mengakrabkan hubungan pertemanan.

Selain itu ada juga hal negatif dari internet berupa mengurangi kinerja, sulit berkomunikasi dengan orang luar, berkurangnya privasi pribadi, kejahatan dunia maya, bahkan pronografi.

Nah, dalam kasus kali ini membahas tentang ketergantungan seseorang dengan aplikasi sosial media yaitu Instagram. Setelah mewawancarai satu narasumber, dia telah mengaku bahwa sempat benar – benar merasa ketergantungan dengan aplikasi media sosial tersebut. “sebenernya kecanduan, cuma engga sampe mental juga.” ujarnya.

Balqis juga berkata “ jadi platform social media kaya instagram itu aku emang user yang bisa dibilang lebih ke user pasif. Jadi, aku lebih sering liatin orang post apa daripada aku nge post, alhamdulillah karna aku tau batas penggunaan socmed ku, jadi secara mental aku alhamdulillah gaterganggu, kalo ngomongin kaya insecure terus anxiety atau depression juga alhamdulillah engga, sebenernya ini tergantung orangnya jugasi, aku tipe yang menganggap social media itu cuma hiburan aja, jadi kalo emang udah ga bikin seneng yaudah aku stop mainin. supaya apapun yang ada di socmed juga jadi ga menggangu aku.”

Memang ada beberapa kasus yang menyebutkan bahwa kencanduan dalam penggunaan media sosial dapat menyinggung ke urusan mental, seperti yang dialami oleh seorang pemuda berusia 19 tahun di London setelah mecoba mengunggah foto selfienya ke Facebook yang akhirnya di diagnosis mengalami penyakit mental. Karena pada saat dia mendaftar ke industri modeling dan dia ditolak, dia biasa diterima oleh pengguna Facebook jika mengunggah foto selfienya, dia merasa kecewa saat ditolak di perusahaan modeling hingga dia terus mencoba mengambil lebih banyak foto selfienya sampai pada akhirnya dia di diagnosa menderita penyakit mental bernama obsessive compulsive disorder alias penyakit psikologis bagi orang – orang dengan perilaku pengulangan yang disebabkan oleh ketakutan atau pikiran yang tidak masuk akal.

 
 
 

Comments


Post: Blog2_Post

Subscribe Form

Thanks for submitting!

  • Instagram
  • Twitter

©2020 by Millennialsdo. Proudly created with Wix.com

bottom of page