Iri Alias Ingin Menjadi Lebih
- millenialsdo

- Apr 7, 2020
- 3 min read
Updated: Apr 14, 2020
Rifky Bagus Pambudi - Millennialsdo
Selasa, 07 April 2020 13:46 WIB
Ilustrasi: Social Comparison, Sumber: https://pin.it/4Glweaw
Media sosial menjadi kegunaan bagi orang untuk bersenang senang seperti, memposting foto, berbelanja, mencari hiburan dan menciptakan konten. Menggunakan media sosial mungkin sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang. Namun perlu diwaspadai sisi negatif sesorang bermain media sosial. Salah satunya adalah fenomena munculnya social comparison atau membandingkan diri dengan orang lain.
Membandingkan diri dengan orang sebenernya sah saja sebagai alat ukur diri, tapi apabila diarahkan ke arah yang tidak baik bisa jadi menurunkan rasa percaya diri yang ada. Kita boleh melihat orang lain sebagai inspirasi atau panutan, tapi lebih baik jangan membanding-bandingkan diri dengan mereka karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah merasa menang. Setiap orang punya latar belakang dan cerita hidup yang berbeda-beda, karna pada akhirnya kita hanya perlu mensyukuri segala keadaan ada pada diri kita, move on dan jalani hidup dengan apapun yang sudah kita miliki.
Sebenarnya, alasan paling sederhana mengapa kita sering membandingkan diri dengan orang lain adalah karena kita mencari kepastian bahwa diri kita lebih baik dibanding orang lain. Mencari pengakuan di dalam dirinya dan diri sendiri inilah yang membuat terus membandingkan diri dengan orang lain. Selain itu, perasaan yang tidak pernah cukup atas apa yang telah dilakukan dan dicapai, membuat kita sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Social comparison atau perbandingan sosial adalah kecenderungan seseorang untuk merasakan hal baik dan buruk dalam dirinya berdasarkan perbandingan dirinya sendiri dengan orang lain. Sayangnya, tidak semua orang dapat menghadapinya dengan bijak dan tidak mendapatkan alasan untuk berbenah diri, hal ini justru membuat banyak orang jadi tertekan dan frustrasi. karena kebanyakan orang hanya terus membandingkan diri dengan orang lain tanpa mau berusaha dan introspeksi diri.
Safira Syifa Hadi adalah seorang yang merasakan social comparison. Mahasiswa politeknik Jakarta ini sering membandingkan dirinya dengan orang lain terlebih jika ada temannya yang kerap dipuji karena sesuatu. “ Gue mulai suka ngebandingin diri gue itu karena temen temen gue disekolah suka muji muji temen gue yang itu “ ucapnya. Safira juga berucap bahwa dari hal kecil aja bisa membuat dia jadi sering membandingkan diri “ Cuma karna like dan komentar di post foto dia tuh banyak banget yang muji, bahkan gue tau orang itu gapunya hubungan baik sama dia “. Ucapnya.
Safira tidak mau terjebak dengan membandingkan dirinya dengan orang lain. Sadar tidak baik bagi kesehatan mentalnya Safira memilih untuk mengupgrade diri. “ untuk lebih dari dia sih engga, tapi gue jadi lebih mau mengupgrade diri gue juga jadi belajar make up, skincare dan fashion. dan gua juga sadar itu bukan hal yang baik buat mental diri gue sendiri“. imbunya.
Safira pun sempat tidak membuka media sosial dan tidak mau berbicara dengan teman nya mengenai orang tersebut “ tapi karena temen gua sadar gue menjauh akhirnya mereka minta gue cerita dan pas gue cerita mereka yang bilang kalo gue juga punya kelebihan jadi gaperlu minder dan juga sebenernya perasaan kayak gitu gapernah ilang sih dan sekarang gue lebih milih unfollow dia “. ujar nya.
Tidak usah diragukan lagi kalau media sosial di era sekarang ini menjadi salah satu hal yang sering di gunakan dan di perbincangkan dengan seluruh orang di dunia. Dari anak kecil hingga lansia pun tak luput dari media sosial. Membandingkan diri dengan orang lain sejatinya tidak perlu dilakukan. Apalagi di media sosial yang penuh dengan kenyataan semu. Percaya diri sendiri dan mensyukuri kelebihan dan bakat yang dimiliki jauh lebih baik dibanding harus hidup dalam bayangan orang lain.
.png)





Comments