top of page

Mempunyai ‘Smartphone’ Belum Tentu Menjadi 'Smartpeople’.

Muhammad Risyad - (Millennialsdo)

Selasa, 07 April 2020 13:29 WIB

https://www.innermedia.co.uk/how-to-deal-with-complaints-on-social-media/



Sosial media adalah tempat berinteraksi kepada khalayak luas, di sosial media dapat lebih mudah memperoleh informasi dan menyebarkan informasi, di sosial media bebas berpendapat, mengkritik, memberikan ide atau gagasan terhadap suatu pernyataan.

Tidak sedikit ‘netizen’ yang menggunakan sosial media,dapat menerima masukan, pernyataan, atau kritikan. Banyak yang egois dan merasa dirinya paling benar di antara orang lain.


Masing masing individu pasti punya pemikiran serta pandangan yang berbeda dengan orang lain, jika ada orang lain membuat suatu pernyataan atau gagaan tentang suatu hal. Lalu kita berkomentar mengenai hal tersebut,dan dapat menerima pendapat serta saran dari mereka, itu baik. Tetapi tidak banyak orang yang seperti itu.


Salah satunya, Odly mahasiswa jurusan ilmu sosial dan ilmu politik, pernah mengalami hal yang kurang mengenakan di sosial media. suatu hari ia membuat sebuah pernyataan tentang “sampah plastik”, dalam pernyataan yang dibuat Odly yaitu “mengomentari pemerintah mengenai kebijakan tentang tidak menggunakan sampah pelastik secara berlebihan karena berdampak buruk kepada seluruh elemen yang ada di bumi”.

Setelah itu Odly membuat suara serta gerakan untuk masyarakat khususnya anak muda untuk ”lebih peduli kepada sampah pelastik yang ada di lingkungan sekitar mereka”, Setelah pernyataan itu diunggah banyak yang menanggapi secara positif dan banyak yang satu pemikiran olehnya.


unggahan odly di media sosial mendapat komentar dari netizen, banyak yang meragukan semangat dan gerakan odly dalam menyeruakan aksi tanpa plastik ini. Tanpa mengetahui maksud dan tujuan pernyataan yang dibuat Odly, dengan ego serta minimnya wawasan, orang tersebut berkomentar: ‘mau seperti apapun dan bagaimanapun, sampah pelastik sudah jadi bagian lingkaran hidup manusia di zaman ini’.


Dia terus membantah serta tidak percaya sama dengan argumen serta masukan yang di keluarkan oleh Odly, dia merasa pendapat serta argumen dia yang paling benar dan tidak bisa di ganggu gugat. Odlly mengalah, dia bilang ‘yang waras yang ngalah’

Setelah perdebatan itu, Odly merasa ada kerenggangan di antara mereka, Odly merasa, berbenda pendapat boleh asal jangan menjatuhkan. Mungkin karena peristiwa tersebut, munculah konflik di antara mereka yang di sebabkan hanya dengan hal sepele, karena kurang nya membaca dan memilah informasi yang baik.

Dikutip dari web vice.com, ada berita tentang “lanskap dan karakter absurd Whedar Riyadi sebagai gambaran internet”. Lukisan Wedhar Riyadi menampilkan interpretassi karakter kartun populer dalam bentuk yang aneh nan abstrak menyerupai dunia fantasi horor dan lanskap – lanskap absurd. Sekilas mengingat kita akan gerakan kenesian lowbrow 1907-an. Seniman asal Yogyakarta ini menampilkan karya seni yang kuat, cerminandari latar belakang didunia kesenian jalanan.


Tidak ada sosok hantu atau karakter antagonis dalam karya – karya Wedhar. Dia mengaku lukisan nya mencerminkan sisi baik dan buruk kehidupan manusia yang semakin digital – dunia dimana yang aneh adalah normal dan bahkan bisa di anggap sebagai sesuatu yang indah.


Karakter menggambarkan wajah lain media sosial, medium yang harusnya digunakan untuk bersosialisasi dan berinteraksi malah menjadi pemecah belah dan penuh dengan ketegangan dan kelancangan.


“Saya turut berduka atas bobroknya pengguna sosial media jaman sekarang, di karenakan egois dan kurangnya wawasan dalam membaca dan mengumpulkan informasi, menjadi dampak buruk bagi penggunanya, entah untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.”

Comments


Post: Blog2_Post

Subscribe Form

Thanks for submitting!

  • Instagram
  • Twitter

©2020 by Millennialsdo. Proudly created with Wix.com

bottom of page