
TRAVELLING MENGUNJUNGI PEGUNUNGAN DAN KEINDAHAN ALAMNYA.
- millenialsdo

- Apr 27, 2020
- 3 min read
Ipung Meivianda-2018070045
Millennialsdo 27 April 2020
Travelling menjadi gaya hidup yang kini digandrungi banyak orang, terutama generasi millenial. Jika punya dana cukup, siapa yang tak suka pergi dari satu tempat ke tempat lainnya? Mengunjungi banyak negara dan mengalami hal baru. Membayangkannya saja sudah menyenangkan apalagi mengalaminya langsung.
Bicara soal travelling yang muncul di benak kita sering kali adalah soal biaya. Berapa biaya yang harus ditanggung. Mulai dari akomodasi, transportasi, hingga membeli oleh-oleh. Saat travelling, biaya yang dihabiskan membengkak di luar perkiraan.
Saya lebih suka travelling ke gunung karna di gunung membuat perjalan dan pengalaman saya terasa luas. Kegiatan mendaki gunung merupakan hobi yang menyenangkan untuk menikmati suasana alam. Namun dalam menikmati alam saat pendakian perlu memperhatikan berbagai faktor. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia atau APGI, Rahman Mukhlis mengatakan butuh pengetahuan tentang pendakian untuk kompetensi dan pengalaman.
Perkara panjat-memanjat dan melakoni perjalanan panjang penuh tantangan bukan perkara mudah. Apalagi saat naik gunung. Ada saja hambatannya. Entah kaki terkilir, tersesat, kehabisan logistik, atau hal-hal aneh lain yang ditemukan di tengah penjelajahan.
Namun, kesukaran yang dihadapi pada waktu muncak—begitulah para pendaki biasanya menamai perjalanan mereka—bakalan mengubah hidup kita 180 derajat
1. Meski capek dan kaki lecet-lecet, kamu bakal ketagihan dan tertantang untuk mendaki gunung laindzargon.com
Nah, di sinilah magisnya gunung. Secapek-capeknya melakoni perjalanan, kamu bakal dibuat ketagihan. Mengapa? Karena kelelahanmu akan terbayar dengan keindahan yang tak pernah kamu temui di mana pun.
Kaki pegal-pegal atau lecet sana-sini bahkan tak terasa sakit kalau kamu menjumpai keindahan alam yang cuma bisa kamu temui di puncak. Kamu bakal ketagihan dan tertantang untuk mendaki gunung lain.
2. Setelah turun gunung, kamu menjadi orang yang peduli terhadap sampah yang berceceran di sekitarnyaalanpendaki.com
Pergi ke gunung mengajarkan kita menghargai lingkungan. Saat mendaki gunung dan melihat ada sampah berceceran, ada amarah yang timbul dalam hati. Kenapa alam seindah itu harus dikotori dengan sampah yang dibuang seenaknya oleh manusia.
Kita pun dengan sukarela memunguti sampah-sampah, menaruhnya di trash bag, membawanya turun gunung, dan membuangnya di tempat sampah. Hal itu secara tidak sadar terbawa di kehidupan sehari-hari. Padahal dulu sebelum naik gunung, kita adalah orang yang tidak peka dengan lingkungan sekitar.
3. Jadi orang yang lebih sabar dan gak gampang ngeluh saat menghadapi banyak persoalan
Terbiasa melakukan perjalanan dengan rintangan yang gak main-main bikin kamu jadi orang yang mudah bersyukur dalam keadaan apa pun. Ketika menghadapi masalah, kamu pun tak mudah marah. Sebab, kamu terbiasa bersabar saat melakukan pendakian.
4. Kamu jadi tahu pentingnya bilang tolong, maaf, dan terima kasih. Intinya kamu jadi menghargai orangtulismenulis.com
Mendaki itu bukan sekadar melakukan sebuah perjalanan fisik, tapi juga intuisi. Menjelajah alam mengasah kepekaanmu terhadap orang-orang sekitar, terutama orang yang turut menjadi anggota rombongan penjelajahanmu.
5. Tak lagi membuang-buang air dan makanan
Kamu sudah tahu gimana sulitnya bertahan dengan logistik yang mepet, gimana rasanya kehabisan makanan di gunung, dan gimana sulitnya mengakses air bersih saat melakukan penjelajahan.
Gak seperti di rumah yang kalau mau cuci muka tinggal lari ke kamar mandi atau wastafel. Sejak turun gunung, kamu jadi menghargai itu semua dan kamu tidak lagi mau membuang-buang rezeki.
6. Tertarik dengan toko Outdoor
Dulu kamu sukanya belanja di mal atau butik. Setelah ketagihan naik gunung, kamu jadi suka menyambangi toko outdoor dan ngecek perlengkapan mendaki yang belum kamu punya.
7. Lalu, penampilanmu berubah, jadi anak gunung abisluckty.com
Suka pakai celana cargo, pakai sandal gunung ke mana-mana, pakai gelang prusik, dan doyan pakai topi rimba. Penampilanmu juga jadi casual banget. Pokoknya beda sama kamu yang dulu.
8. Mulai nabung untuk menyambangi gunung-gunung di provinsi sebelah, bahkan di luar pulau
Dulu tabunganmu buat beli tas, sepatu, dan barang-barang fashion lainnya. Kini orientasimu berubah. Kamu gak lagi ingin membelanjakan barang-barang itu. Sekarang kamu mulai nabung buat ke Rinjani atau Kerinci. Bahkan, Jayawijaya kalau perlu.
9. Temenmu jadi banyak dan pikiranmu jadi lebih terbukaluckty.com
Temen-temen yang kamu temui saat mendaki kini jadi temen jalanmu. Kamu pun aktif berkomunikasi dengan mereka, bahkan merencanakan naik gunung bareng. Lalu, karena banyak teman dari berbagai daerah ini, pikiranmu jadi lebih terbuka. Yang jelas gak sesempit dulu.
Intinya, sebuah perjalanan akan memahamkan seseorang tentang pentingnya bersyukur dan menghargai lingkungan sekitar.
Bahasa juga yang sering jadi penghambat acara jalan-jalan, karena kurangnya rasa percaya diri traveler jelang perjalanan. Tapi, tahukah kamu sebenarnya ada cara mudah untuk menghadapi ketakutan ini?
Selain menggunakan cara kekinian, seperti mengunduh aplikasi peta dan kamus yang dapat dipakai offline, nyatanya kamu bisa juga, lho, menggunakan cara komunikasi lain. Misalnya saja selalu membawa catatan lengkap dengan alat tulisnya.
Dua benda ini bisa jadi penyelamat saat kamu tengah eksplorasi, karena kamu bisa meminta tolong penduduk lokal untuk mencatatkan tujuanmu di kertas tersebut. Kamu juga bisa menggambar simbol sederhana untuk hal-hal penting, seperti toilet, rumah sakit, atau bandara di catatanmu.
.png)









Comments